Rabu, 05 Maret 2025

DIAGRAM BINER

 PERCOBAAN II

DIAGRAM BINER 





I. Tujuan 
         Mencari suhu kelarutan kritis sistem biner fenol-air

II. Landasan Teori
         Diagram fase Al-Cu di dialirkan oleh banyaknya fakta dan intermetalik dengan hubungan timbal balik yang kompleks, yang terjadi di semua diagram fase. Diagram Fase telah dipahami oleh beberapa penulis. Di mana diagram biner dapat dijelaskan dengan menggabungkan semua sistem percobaan yang tercantum mungkinkan untuk memperoleh diagram fase biner. Reaksi indrian bersama dengan suhu reaksi dan pada komposisi fasa reaksi bercampur . Diagram fase stabil dengan suhu harus dugunakan (zabac et al ., 2020).
         fenol adalah suatu senyawa aromatik yang dimana struktur kimia nya diturunkan dari benzena, jika satu atau lebih atom hidrogen yang terkait pada inti benzen diganti dengan satu atau lebih gugus hidroksil. Jadi pada fenol. pada gugus hidroksil fenolik. berdasarkan banyaknya radikal hidroksil yang terikat pada inti benzena. Bisa membedakan fenol atas fenol bervariasi satu, bervariasi dua dan bervariasi tiga. fenol ini banyak digunakan dalam industri parfum. Fenol dapat diturunkan dari benzen (Sumardjo, 2008).
         superkonduktor adalah suatu material yang tidak memiliki suatu nilai reaktivitas ketika berada dibawah suhu kritis (Tc).Fenomena ini dapat disebut sebagai superkondukivitas. Suhu kritis merupakkan suhu ketika material tersebut pertama kali akan menunjukka pada fenomena superkonduktivitas. Fenomena ini pertama kali diamati oleh herike kamerling onnees. Hal ini dilakukkan saat mengamati nilai pada resistivitas dan suhu kawat merkuri yg akan didinginkan titik suhu (supartri et al., 2020).

III. Prosedur Percobaan
3.1 Alat dan Bahan
A. Alat
- Buret 50 ml
- Termometer 100C°
- Tabung reaksi besar alas datar (Buchner)
- Pengaduk
- Penangas
- Batu didih
- Kaca arloji
- Gelas ukur 50 ml
- Gelas kimia 500 ml
- Pipet tetes
- Spatula

B. Bahan
- Fenol 95%
- Aquades

3.2 Skema Kerja
aquades
- Diisi pada buret bersih
- Dibersihkan dan dikeringkan reaksi yang memiliki 1 set sumbat lengkap dengan pengadukan, termometer dan batu didih
-Ditimbang tabung reaksi (lengkap)
fenol
- Diisi pada tabung reaksi
- Ditambahkan sampai berat fenol 2,5 gram
- Ditambahkan 0,2ml aquades menggunakan buret
- Dipanaskan dalam penangas air
- Dicatat suhu jika menjadi jernih (T1)
- Dibiarkan suhu ±4°C
- Dikeluarkan tabung dari penangas
- Dibiarkan dingin sampai terus diaduk
-Dicatat suhu tabung mendidih suhu kamar(T2)
- Ditambahkan aquades 0,2 ml
-Dilakukan kembali langkah 6
-Dilakukan beberapa kali

IV. Hasil dan Pembahasan
        Percobaan yang berjudul "Diagram Biner" yang mana bertujuan untuk menentukan suhu kelarutan kritis sistem biner fenol-air. Adapun sistem biner fenol-air merupakan sistem yang memperlihatkan sifat kelarutan antara fenol dan air pada temperatur tertentu dan tekanan konstan. Fasa merupakan keadaan materi yang bersifat homogenik baik secare fisik maupun kimiawi. Secara umum fasa diperlihatkan dalam tiga wujud zat yitu gas, padat dan cair. ketiga wujud zat tersebut dalam suatu komponen digambarkan dalam diagram fasa yang memperlibatkan  daerah-daerah tekanan dan juga temperatur dimana diagram fasa memperlibatkan nilai tekanan dan temperatur  dua fasa ketika berada dalam kondisi kesetimbangan. Dalam diagram fasa komponen yang terlibat bisa lebih dari satu komponen yang di sebut sistem biner, misalnya fenol dan air. Kedua komponen itu dapat saling larut dalam beberapa kondisi tertentu, titik kesetimbangan kelarutan dapat dilampaui untuk menghasilkan suatu larutan yang disebut lewat jenuh yang stabil.
       Diagram fasa fenol-air menunjukkan perubahan fasa fenol dan air pada berbagai kombinasi suhu dan komposisi. Fenol merupakan senyawa kimia yang pada suhu kamar berwujud cairan tidak berwarna dengan bau khas. Fenol merupakan senyawa organik yang terdiri dari cincin benzen yang terhubung dengan gugus hidroksil (-OH). Adapun strukturnya:

Gambar 1. Struktur Fenol

Sementara air adalah senyawa kimia yang di kenal sebagai zat cair paling umum dan penting bagi kehidupan. Dalam diagram fasa fenol-air, terdapat dua komponen utama yaitu fenol dan air. Ketika fenol dan air dicampurkan dalam berbagai perbandingan akan terjadi perubahan fase yang di representasikan dalam diagram fasa tersebut. 

Gambar 2. Analisis diagram fasa
          
        Diagram biner merupakan suatu diagram yang memberikan informasi mengenai sistem 2 fasa dari dua zat dalam campuran yang di tunjukkan oleh hubungan temperatur terhadap konsentrasi relatif zat. Sistem 2 fasa adalah sistem yang memiliki dua jenis fasa. Suhu kelarutan kritis terjadi pada saat fenol direaksikan oleh air, kemudian dipanaskan dan dilakukan pengocokan, larutan terlihat dari keruh menjadi jernih. larut berada pada satu fasa dimana pada saat campurannya larut (homogen) (jenuh). Sedangkan larutan berada pada dua fasa ketika dilakukan penambahan fenol yang dihasilkan dua lapisan (keruh) (Raja, 2021).
         Parameter interaksi biner sebagai fungsi suhu untuk kesetimbangan uap cair campuran yang melibatkan alkoksi rantai cabang atau aseton telah di tentukan. Parameter ditentukan dari 14 data kesetimbangan uap-cair suatu biner yang telah di pilih dengan baik menggunakan model parameter interaksi biner sebagai fungsi suhu. Parameter yang didapat bisa digunakan untuk dapat mengoptimalkan proses (Mustain et al., 2019)
          Menurut Verma at al. (2019), larutan atau campuran fenol diaduk kuat-kuat dengan menggunakan pengaduk pada setiap penambahan air dalam larutan fenolik. Jika larutan tetap tidak berwarna atau bening pada temperatur kamar berarti sistem berada pada kondisi homogen. Penambahan air lebih banyak diperlukan untuk sistem dalam kondisi heterogen dan munculnya larutan berwarna putih keruh menunjukkan bahwa larutan bersifat heterogen. Pada percobaan ini pada penambahan volume air dari penambahan 0,2 mL sampai 1,5 mL ti1 dan t2 harus terus meningkat. Sedangkan pada penambahan volume air 2,5 mL sampai 13,0 mL yaitu pengulangan ke-11 sampai ke-15 t1 dan t2 menjadi menurun. Sehingga penambahan air dalam jumlah tertentu dapat berpengaruh terhadap perubahan larutan dan perubahan suhu yang digunakan. Di mana saat fenol lebih berat dari air suhu t1 atau larutan tak berwarna atau bening dan pada T2 larutan keruh memiliki rentang cukup jauh dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengamati perubahannya. Sedangkan penambahan H2O dalam jumlah banyak maka jarak t1 dan t2 tidak terlalu jauh dan menyebabkan proses berlangsung dengan cepat.
Berikut ini adalah komposisi campuran fenol air yang dapat dilihat sebagai berikut:


Gambar 3. Diagram Fase Biner fenol-air 

Dari grafik atau diagram di atas L1 adalah fenol dalam air, L2 adalah air dalam fenol. XA dan X1A adalah fraksi mol air dan fraksi mol fenol. XC adalah fraksi mol komponen pada suhu kritis (Tc) pada tekanan tetap. Pada suhu t1 adalah komposisi antara A1 dan B1 dan pada suhu T2 adalah komposisi antara A2 dan B2 (dua fase/keruh), sedangkan di luar daerah kurva (atas suhu Tc sistem pada satu fase/jernih) (Wahyuni, 2013).

V. Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
       Adapun kesimpulan yang di peroleh:

  1. Diagram fase biner adalah diagram yang menggambarkan kesetimbangan dua komponen fase dalam sistem material.agram ini juga disebut diagram kesetimbangan.
  2. Diagram ini menggambarkan fase atau beberapa fase yang stabil dalam kondisi tertentu. 
  3. Diagram ini menunjukkan suhu-komposisi dua komponen pada tekanan konstan. 
  4. Suhu diplot sebagai ordinat dan komposisi sebagai absis.
  5. Diagram ini dapat membantu memilih temperatur pemanasan yang sesuai untuk setiap proses perlakuan panas.
5.2 Sarana
         Studi Variasi Kondisi Operasi: Perlu dilakukan pengujian pada rentang suhu dan tekanan yang lebih luas untuk mengetahui batas-batas kelarutan dan suhu kritis sistem fenol–air secara lebih komprehensif. 

DAFTAR PUSTAKA

Mustain z A., K. Sa'diyah, A. A. Wibowo dan D. Hartanto. 2019."Parameter Interaksi Biner Kesetimbangan Uap-Cair Campuran yang Melibatkan Alkohol Rantai Bercabang atau Aseton untuk Optimasi Proses Pemurnian Bioetanol". Jurnal teknik kimia dan lingkungan. Vol. 3(2): 53-61.

Raja, K. L. 2021. "Tinjauan Hamburan Neutron sudut kecil untuk mengukur misibilitas campuran Biner polimer". Jurnal Ilmiah Aplikasi dan Radiasi. Vol. 8(2): 1-10.

Saputri, M., M. F. Sobari, A. I. Hanifah, W. A. Sobari, T. Saragi dan kisdiana. 2020. "Pengaruh konsentrasi domping Ce terhadap sifat listrik material Eu2-x Cex Cuy+A-A pada daerah under-Domped". Jurnal material dan energi Indonesia. Vol. 6(2): 30-36.

Sumardjo, D. 2008. Pengantar kimia: Buku panduan kuliah mahasiswa kedokteran dan program strata 1 fakultas bioekakta. Jakarta: EGC.

Wahyuni, Sri. 2003. Buku Ajar Kimia Fisika 2.Semarang: UNNES.

Zobac, D., A. Kropa, A. Zemarava dan K. W. Richter. 2020."Experimental Description of the Al-Cu Binary Phase Diagram". Journal of metalungical and material trasactions. Vol  50(1): 38-45.


 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

VOLUME MOLAR PARSIAL

  PERCOBAAN IV VOLUME MOLAR PARSIAL  I. Tujuan  Menentukan volume molar nyata (e)M Menentukan volume molar parsial larutan dan zat tarlarut ...