Selasa, 11 Maret 2025

VOLUME MOLAR PARSIAL

 PERCOBAAN IV

VOLUME MOLAR PARSIAL 

I. Tujuan 

  1. Menentukan volume molar nyata (e)M
  2. Menentukan volume molar parsial larutan dan zat tarlarut (v

II. Landasan Teori

         Volume molar parsial merupakan kontribusi volume setiap komponen terhadap volume total suatu larutan. Jika hal terjadi pada sistem larutan yang terdiri dari perarut dan zat terlarut akan di peroleh volume total larutan yang tidak ditentukan dari jumlah volume pelarut dan volume zat terlarut. Maka volume total larutan sangat tergantung pada komposisi pelarut dan sat terlarut. Saat terjadi proses pelarutan maka zat terlarut akan tersolvasi dalam pelarut. Sehingga molekul zat terlarut akan di kelilingi oleh molekul pelarut  (Rohyami, 2018).

          Volume molar larutan elektrolit yang nampak dan parsial telah terbukti sebagai alat yang sangat berguna di dalam interaksi zat terlarut dan zat pelarut ada larutan. Densitas ukuran kepekatan atau kemampuan suatu zat merupakan perbandingan antara massa dan volume zat itu sendiri. Ada beberapa cara untuk mengestimasikan densitas cairan silika titik salah satunya metode yang dapat dilakukan tersebut adalah dengan cara menggunakan metode hubungan linear antara volume yang ada (Kristi et all., 2022).

        Volume molar semu dan kompresibilitas molar semu ditentukan sebagai fungsi komposisi pada setiap suhu dari data densitas eksperimental pada kerapatan dengan kecepatan suara. Volume molar parsial komponen suatu campuran berubah-ubah, dikarenakan bergantung pada komposisi jenis molekul apabila komposisi berubah dari zat a murni ke zat b murni. Lingkungan molekular berubah dan perubahan gaya gaya yang bekerja antar molekul sifat campuran apabila komposisi berubah. Konsentrasi yang berbeda akan menyebabkan interaksi molekul juga berbeda, hal ini dipengaruhi oleh volume yang bergantung pada komposisi larutan. Konsentrasi yang besar akan mengakibatkan interaksi antar molekul akan lebih sering terjadi. Sifat-sifat volume molar parsial dapat ditentukan dengan metode grafik yang menggunakan hubungan yang menunjukkan hubungan antara volume dan konsentrasi. Volume molal memiliki prinsip yaitu dimana sifatnya juga dapat ditentukan dengan suatu fungsi yang disebut dengan besaran molal nyata. Sifat dalam termodinamika molal parsial dipengaruhi oleh beberapa sifat utama yaitu dalam suatu larutan panas larutan volume molal parsial dan komponen-komponennya dalam suatu larutan, entalpi molal parsial, serta energi bebas molal parsial dalam larutan tersebut (Wulandari dan Yulkifri, 2020).

III. Prosedur Percobaan

3.1 Alat dan Bahan

A. Alat

- Botol seprot

- Gelas ukur 50 ml

- Piknometer 25 ml

- Pipet tetes

- Penangas air diatur pada suhu 40°C

- Termometer

B. Bahan 

 - Aquades

- NaCl 4M 

 

3.2 Skema Kerja 


 IV. Hasil dan Pembahasan 

       Berdasarkan praktikum kimia fisik lanjut mengenai percobaan dengan judul "Volume Molar Parsial" yang dimana bertujuan untuk dapat menentukan volume molar parsial nyata (Ø) serta menentukan volume molar parsial larutan dan zat terlarut (V). Dari judul, yang dimaksud dengan volume molar parsial merupakan zat terlarut dalam larutan adalah sifat termodinamika yang terkait dengan struktur zat terlarut dalam larutan dan interaksi zat terlarut-pelarut. Volume molar parsial suatu zat dalam larutan adalah perubahan volume yang terjadi suatu mol komponen x ditambah pada larutan tersebut dan tidak mengubah komposisi sistem volume molar parsial komponen suatu campuran dapat berubah tergantung pada komposisi. Karena lingkungan setiap jenis molekul campuran komposisi beruban dari A murni ke B murni (Edwin et al., 2020).

        Volume molar parsial suatu larutan adalah penambahan volume yang terjadi bila satu mol komponen ditambah pada larutan. Pada percobaan ini bertujuan untuk menentukan volume molar parsial larutan NaCl dalam berbagai konsentrasi yang dilakukan dengan cara mengukur berat jenis larutan NaCl, dengan menggunakan piknometer. Adapun struktur dari NaCl:

Gambar 1. Struktur NaCl

Adapun cara menghitung volume molar nyata. Dimana dapat diperoleh menggunakan persamaan:


       Molalitas (m) adalah jumlah mol zat terlarut persatuan massa pelarut sedangkan molaritas (M) m adalah jumlah mol zat terlarut persatuan volume. Volume larutan akan mengalami perubahan dengan adanya penambahan pada larutan. Molalitas (m) sebanding dengan konsentrasi (M) di mana semakin besar konsentrasi (M) maka semakin besar pula molalitas (m) larutannya. Kemudian dari data molaritas yang didapatkan, dilakukan perhitungan tentang volume molar nyata. Volume molar semu adalah volume yang digunakan untuk menentukan volume molar komponen larutan.


V. Kesimpulan dan Saran

4.1 Kesimpulan 

1. Volume molar parsial adalah perubahan volume yang terjadi ketika satu mol zat ditambahkan ke dalam larutan tanpa mengubah komposisi sistem.  

2. Volume molar parsial bergantung pada interaksi antara zat terlarut dan pelarut, serta komposisi campuran dalam larutan. 

3. Percobaan yang dilakukan bertujuan untuk menentukan volume molar parsial NaCl dalam berbagai konsentrasi dengan menggunakan piknometer untuk mengukur berat jenis larutan. 

4.2 Sarana

    Perlu penelitian lebih lanjut mengenai efek interaksi antar molekul terhadap perubahan volume dalam campuran larutan.  


DAFTAR PUSTAKA 

Edwin, E., U. R. Budihastuto dan C.S. Elnita. 2020. "Partial molar Pregnancy with Live Fetus In First Trimester: What Should we do next". Jurnal Kedokteran Syiah Kuala. Vol. 20 (2): 111-114.

Kristi, A., M. Caf, M. Pompe dan A. Podgornok, 2022. "Complex Protein Retention Shifts with a pressure lncrease: An Indicatron of a Standard partial Molar Volume Increase during Adsorption". Journal Analytical Chemistry. Vol. 4(1): 1-5.

Rohyani, Y. 2018. Kimia fisik. Yogyakarta: Deepublish. 

Wulandari, D. A. dan Yulkifli 2020. "Studi awal bangun colarimeter sebagai pendekatan pada pewarna makanan menggunakan sensor photodioda". Jurnal pilar of 'Physics. Vol .11(2): 81-87.

 


Rabu, 05 Maret 2025

DIAGRAM BINER

 PERCOBAAN II

DIAGRAM BINER 





I. Tujuan 
         Mencari suhu kelarutan kritis sistem biner fenol-air

II. Landasan Teori
         Diagram fase Al-Cu di dialirkan oleh banyaknya fakta dan intermetalik dengan hubungan timbal balik yang kompleks, yang terjadi di semua diagram fase. Diagram Fase telah dipahami oleh beberapa penulis. Di mana diagram biner dapat dijelaskan dengan menggabungkan semua sistem percobaan yang tercantum mungkinkan untuk memperoleh diagram fase biner. Reaksi indrian bersama dengan suhu reaksi dan pada komposisi fasa reaksi bercampur . Diagram fase stabil dengan suhu harus dugunakan (zabac et al ., 2020).
         fenol adalah suatu senyawa aromatik yang dimana struktur kimia nya diturunkan dari benzena, jika satu atau lebih atom hidrogen yang terkait pada inti benzen diganti dengan satu atau lebih gugus hidroksil. Jadi pada fenol. pada gugus hidroksil fenolik. berdasarkan banyaknya radikal hidroksil yang terikat pada inti benzena. Bisa membedakan fenol atas fenol bervariasi satu, bervariasi dua dan bervariasi tiga. fenol ini banyak digunakan dalam industri parfum. Fenol dapat diturunkan dari benzen (Sumardjo, 2008).
         superkonduktor adalah suatu material yang tidak memiliki suatu nilai reaktivitas ketika berada dibawah suhu kritis (Tc).Fenomena ini dapat disebut sebagai superkondukivitas. Suhu kritis merupakkan suhu ketika material tersebut pertama kali akan menunjukka pada fenomena superkonduktivitas. Fenomena ini pertama kali diamati oleh herike kamerling onnees. Hal ini dilakukkan saat mengamati nilai pada resistivitas dan suhu kawat merkuri yg akan didinginkan titik suhu (supartri et al., 2020).

III. Prosedur Percobaan
3.1 Alat dan Bahan
A. Alat
- Buret 50 ml
- Termometer 100C°
- Tabung reaksi besar alas datar (Buchner)
- Pengaduk
- Penangas
- Batu didih
- Kaca arloji
- Gelas ukur 50 ml
- Gelas kimia 500 ml
- Pipet tetes
- Spatula

B. Bahan
- Fenol 95%
- Aquades

3.2 Skema Kerja
aquades
- Diisi pada buret bersih
- Dibersihkan dan dikeringkan reaksi yang memiliki 1 set sumbat lengkap dengan pengadukan, termometer dan batu didih
-Ditimbang tabung reaksi (lengkap)
fenol
- Diisi pada tabung reaksi
- Ditambahkan sampai berat fenol 2,5 gram
- Ditambahkan 0,2ml aquades menggunakan buret
- Dipanaskan dalam penangas air
- Dicatat suhu jika menjadi jernih (T1)
- Dibiarkan suhu ±4°C
- Dikeluarkan tabung dari penangas
- Dibiarkan dingin sampai terus diaduk
-Dicatat suhu tabung mendidih suhu kamar(T2)
- Ditambahkan aquades 0,2 ml
-Dilakukan kembali langkah 6
-Dilakukan beberapa kali

IV. Hasil dan Pembahasan
        Percobaan yang berjudul "Diagram Biner" yang mana bertujuan untuk menentukan suhu kelarutan kritis sistem biner fenol-air. Adapun sistem biner fenol-air merupakan sistem yang memperlihatkan sifat kelarutan antara fenol dan air pada temperatur tertentu dan tekanan konstan. Fasa merupakan keadaan materi yang bersifat homogenik baik secare fisik maupun kimiawi. Secara umum fasa diperlihatkan dalam tiga wujud zat yitu gas, padat dan cair. ketiga wujud zat tersebut dalam suatu komponen digambarkan dalam diagram fasa yang memperlibatkan  daerah-daerah tekanan dan juga temperatur dimana diagram fasa memperlibatkan nilai tekanan dan temperatur  dua fasa ketika berada dalam kondisi kesetimbangan. Dalam diagram fasa komponen yang terlibat bisa lebih dari satu komponen yang di sebut sistem biner, misalnya fenol dan air. Kedua komponen itu dapat saling larut dalam beberapa kondisi tertentu, titik kesetimbangan kelarutan dapat dilampaui untuk menghasilkan suatu larutan yang disebut lewat jenuh yang stabil.
       Diagram fasa fenol-air menunjukkan perubahan fasa fenol dan air pada berbagai kombinasi suhu dan komposisi. Fenol merupakan senyawa kimia yang pada suhu kamar berwujud cairan tidak berwarna dengan bau khas. Fenol merupakan senyawa organik yang terdiri dari cincin benzen yang terhubung dengan gugus hidroksil (-OH). Adapun strukturnya:

Gambar 1. Struktur Fenol

Sementara air adalah senyawa kimia yang di kenal sebagai zat cair paling umum dan penting bagi kehidupan. Dalam diagram fasa fenol-air, terdapat dua komponen utama yaitu fenol dan air. Ketika fenol dan air dicampurkan dalam berbagai perbandingan akan terjadi perubahan fase yang di representasikan dalam diagram fasa tersebut. 

Gambar 2. Analisis diagram fasa
          
        Diagram biner merupakan suatu diagram yang memberikan informasi mengenai sistem 2 fasa dari dua zat dalam campuran yang di tunjukkan oleh hubungan temperatur terhadap konsentrasi relatif zat. Sistem 2 fasa adalah sistem yang memiliki dua jenis fasa. Suhu kelarutan kritis terjadi pada saat fenol direaksikan oleh air, kemudian dipanaskan dan dilakukan pengocokan, larutan terlihat dari keruh menjadi jernih. larut berada pada satu fasa dimana pada saat campurannya larut (homogen) (jenuh). Sedangkan larutan berada pada dua fasa ketika dilakukan penambahan fenol yang dihasilkan dua lapisan (keruh) (Raja, 2021).
         Parameter interaksi biner sebagai fungsi suhu untuk kesetimbangan uap cair campuran yang melibatkan alkoksi rantai cabang atau aseton telah di tentukan. Parameter ditentukan dari 14 data kesetimbangan uap-cair suatu biner yang telah di pilih dengan baik menggunakan model parameter interaksi biner sebagai fungsi suhu. Parameter yang didapat bisa digunakan untuk dapat mengoptimalkan proses (Mustain et al., 2019)
          Menurut Verma at al. (2019), larutan atau campuran fenol diaduk kuat-kuat dengan menggunakan pengaduk pada setiap penambahan air dalam larutan fenolik. Jika larutan tetap tidak berwarna atau bening pada temperatur kamar berarti sistem berada pada kondisi homogen. Penambahan air lebih banyak diperlukan untuk sistem dalam kondisi heterogen dan munculnya larutan berwarna putih keruh menunjukkan bahwa larutan bersifat heterogen. Pada percobaan ini pada penambahan volume air dari penambahan 0,2 mL sampai 1,5 mL ti1 dan t2 harus terus meningkat. Sedangkan pada penambahan volume air 2,5 mL sampai 13,0 mL yaitu pengulangan ke-11 sampai ke-15 t1 dan t2 menjadi menurun. Sehingga penambahan air dalam jumlah tertentu dapat berpengaruh terhadap perubahan larutan dan perubahan suhu yang digunakan. Di mana saat fenol lebih berat dari air suhu t1 atau larutan tak berwarna atau bening dan pada T2 larutan keruh memiliki rentang cukup jauh dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengamati perubahannya. Sedangkan penambahan H2O dalam jumlah banyak maka jarak t1 dan t2 tidak terlalu jauh dan menyebabkan proses berlangsung dengan cepat.
Berikut ini adalah komposisi campuran fenol air yang dapat dilihat sebagai berikut:


Gambar 3. Diagram Fase Biner fenol-air 

Dari grafik atau diagram di atas L1 adalah fenol dalam air, L2 adalah air dalam fenol. XA dan X1A adalah fraksi mol air dan fraksi mol fenol. XC adalah fraksi mol komponen pada suhu kritis (Tc) pada tekanan tetap. Pada suhu t1 adalah komposisi antara A1 dan B1 dan pada suhu T2 adalah komposisi antara A2 dan B2 (dua fase/keruh), sedangkan di luar daerah kurva (atas suhu Tc sistem pada satu fase/jernih) (Wahyuni, 2013).

V. Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
       Adapun kesimpulan yang di peroleh:

  1. Diagram fase biner adalah diagram yang menggambarkan kesetimbangan dua komponen fase dalam sistem material.agram ini juga disebut diagram kesetimbangan.
  2. Diagram ini menggambarkan fase atau beberapa fase yang stabil dalam kondisi tertentu. 
  3. Diagram ini menunjukkan suhu-komposisi dua komponen pada tekanan konstan. 
  4. Suhu diplot sebagai ordinat dan komposisi sebagai absis.
  5. Diagram ini dapat membantu memilih temperatur pemanasan yang sesuai untuk setiap proses perlakuan panas.
5.2 Sarana
         Studi Variasi Kondisi Operasi: Perlu dilakukan pengujian pada rentang suhu dan tekanan yang lebih luas untuk mengetahui batas-batas kelarutan dan suhu kritis sistem fenol–air secara lebih komprehensif. 

DAFTAR PUSTAKA

Mustain z A., K. Sa'diyah, A. A. Wibowo dan D. Hartanto. 2019."Parameter Interaksi Biner Kesetimbangan Uap-Cair Campuran yang Melibatkan Alkohol Rantai Bercabang atau Aseton untuk Optimasi Proses Pemurnian Bioetanol". Jurnal teknik kimia dan lingkungan. Vol. 3(2): 53-61.

Raja, K. L. 2021. "Tinjauan Hamburan Neutron sudut kecil untuk mengukur misibilitas campuran Biner polimer". Jurnal Ilmiah Aplikasi dan Radiasi. Vol. 8(2): 1-10.

Saputri, M., M. F. Sobari, A. I. Hanifah, W. A. Sobari, T. Saragi dan kisdiana. 2020. "Pengaruh konsentrasi domping Ce terhadap sifat listrik material Eu2-x Cex Cuy+A-A pada daerah under-Domped". Jurnal material dan energi Indonesia. Vol. 6(2): 30-36.

Sumardjo, D. 2008. Pengantar kimia: Buku panduan kuliah mahasiswa kedokteran dan program strata 1 fakultas bioekakta. Jakarta: EGC.

Wahyuni, Sri. 2003. Buku Ajar Kimia Fisika 2.Semarang: UNNES.

Zobac, D., A. Kropa, A. Zemarava dan K. W. Richter. 2020."Experimental Description of the Al-Cu Binary Phase Diagram". Journal of metalungical and material trasactions. Vol  50(1): 38-45.


 

 

 

 

 

Rabu, 23 Oktober 2024

PANAS NETRALISASI DAN ENERGI KISI

 



I. Tujuan

  1. Menentukan panas netralisasi Asam dan Basa
  2. Menentukan Panas Kelarutan Kristal ion
  3. Menghitung Energy Kisi Padatan Kristal ion

II. Landasan Teori
        Energi kisi tidak dapat diukur secara langsung, namun jika ingin mengetahui
struktur dan komposisi senyawa ioniknya, maka dapat dihitung energi kisi suatu senyawanya. Energi kisi juga dapat ditentukan secara tidak langsung dengan cara mengasumsikan bahwa pembentukan senyawa ionik terjadi dalam serangkaian langkah-langkah. Besar kecilnya nilai energi kisi tergantung kepada mudah atau tidaknya ion-ion dalam fasa gas bergabung dan tersusun menjadi kristal ionik. Semakin mudah ion-ion bergabung dalam fasa gas dan disusun menjadi kristal ionik maka semakin besar pula energi kisinya. Hal yang menyebabkan ikatan ion stabil adalah adanya gaya tarik menarik antara ion untuk dapat membentuk senyawa kimia dan menyebabkan berkurangnya energi potensial (Nguyen et al., 2020).
        Adapun energi kisi dapat didefinisikan sebagai energi yang dibebaskan apabila sejumlah mol kation dan mol anion dalam fase gas didekatkan dari jarak tak hingga sampai kedudukan seimbang dalam satu kisi kristal 1 mol senyawa ionik pada suhu 0 K. Energi kisi juga didefinisikan sebagai energi yang diperlukan pada penguraian 1 mol senyawa ionik menjadi ion-ionnya dalam fase gas pada suhu 0 K. Energi kisi dapat diperoleh dengan membuat reaksi pembentukan senyawa ionik melalui tahapan-tahapan yang digambarkan dalam suatu sikhus. Perubahan entalpi yang menyertai suatu reaksi adalah sama, tidak bergantung apakah reaksi berlangsung satu tahap ataupun beberapa tahap. Energi yang dibutuhkan untuk mengubah satu mol senyawa padat menjadi ion gas. Energi ini disebut juga dengan energi kisi, dengan pembentukan kisi kristal ionik dari ion-ionnya yang disertai dengan adanya proses pembebasan sejumlah energi (Hasan et al, 2017).
Energi kisi sebuah kristal molekular dapat diperkirakan dengan menggunakan potensial sederhana. Energi potensial bila atom atau molekul benar-benar terpisah satu sama lain ialah nol. Energi kisi nya ialah selisih antara kuantitas dan angka positifnya. Di mana nilai yang dihasilkan melebihi energi kisi sebenarnya karena efek mekanika kuantum dari energi titik-nol. Bila koreksi kuantum diberlakukan, energi pengikatnya masing-masing akan berkurang, yang menunjukkan prediksi yang dihasilkan untuk energi kisi kristal dan jarak tetangga terdekatnya. Untuk helium gerak titik nol nya begitu besar sehingga jika kristal benda-benda terbentuk, kristal ini akan segera meleleh, itu sebabnya helium tetap berwujud sampai suhu nol mutlak pada tekanan atmosfer. Unsur Halida logam alkali kecuali Sesium semua mengkristal dalam bentuk struktur garam batuan. Struktur ini dapat dipandang sebagai kisi kim anion semua tapak oktrahedralnya dihuni oleh kation atau setara dengan itu sebagai kisi kim kation yang semua tapak oktahedralnya dihuni oleh anion. Dalam kedua cara itu, setiap ion dikelilingi oleh enam ion bermuatan berlawanan yang berjarak sama. Struktur garam-garam batuan merupakan struktur kristal stabil bila jari-jari kation anion dianggap berperilaku sebagai bulatan bermuatan yang tidak dapat dikompresi (Kilo et al., 2021).

III. Prosedur Percobaan

      3.1 Alat dan Bahan
A. Alat 

  • Kalorimeter 1 set
  • Gelas ukur 100 ml
  • Termometer 100°C
  • Gelas piala 250 ml
  • Erlenmeyer 200 ml
B. Bahan
  • NaOH
  • HC1
  • MgCl2

 3.2 Skema kerja 

A. Menentukan tetapan kalorimeter (Ck)             yang akan digunakan

Dalam percobaan ini, penentuan Ck dilakukan dengan menghitung panas netralisasir

eaksi NaOH dan HCl melalui percobaan dan mencari panas netralisasi berdasarkan iteratur.

b. Menentukan perubahan entalpi                        netralisasi (DHn)

  1. Memasukkan 100 ml air ke dalam calorimeter dan dibiarkan ± 5 menit. Kemudian diukur suhu air (Tad)M
  2. emasukkan 100 ml HCl 1 M ke dalam kalorimeter dengan segera.M
  3. engukur suhu campuran pada selang waktu 15 detik sambil diaduk hinggam encapai suhu maksimum, lalu perlahan turun. Penurunan suhu dicatat hinggam encapai suhu relative konstan. Suhu campuran (THCl,H2O) berada pada waktup encampuran mula-mula (t = 0 detik), dan diperoleh dari ekstrapolasi grafikh ubungan suhu dan waktu. Adapun perubahan suhu menunjukkan adanyap erubahan entalpi pengenceran (DHs)M
  4. emindahkan larutan HCl (tahap 3) ke dalam gelas pialaM
  5. engukur suhu awal larutan HCl (tahap 3) dan larutan NaOH 1 M yang berada dalam gelas piala lainnya. Kedua suhu larutan ini dibuat sama.
  6. Memasukkan 100 ml NaOH 1 M ke dalam calorimeter dan dilanjutkan dengan menuangkan 200 ml larutan HCl (tahap 3). Lalu mengukur suhu campuran pada selang waktu 15 detik sambil diaduk hingga mencapai suhu optimum, lalu perlahan turun. Penurunan suhu dicatat hingga mencapai suhu relatif konstan. Suhu campuran (TNaOH,HCl) berada pada t = 0 detik dan diperoleh dari ekstrapolasi grafik hubungan suhu dan waktu. Adapun perubahan suhu menunjukkan adanya perubahan entalpi netralisasi (DHn)

 c. Menentukan perubahan entalpi pelarutan dan energy kisi

  1. Memasukkan 100 ml air ke dalam calorimeter dan dibiarkan ±5 menit dan diukur suhunya (To)M
  2. emasukkan dengan segera beberapa gram MgCl2 (lihat dalam table pengamatan)dan ditutup dengan segera.S
  3. uhu diukur setiap 15 detik hingga relative konstan dan sambil diaduk. Data ini digunakan untuk mendapatkan suhu campuran (Tc)e
  4. ngulangi langkah 1,2 dan 3 untuk variasi massa MgCl2 (lihat table pengamatan)



IV. Hasil dan Pembahasan
          Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan yaitu mengenai panas netralisasi dan energi kisi. Adapun hasil yang didapatkan ada percobaan ini 
yaitu sebagai berikut:. 
 4.1 Perubahan Entalpi Pengenceran HCl (∆Hs)
         Perubahan entalpi pengenceran terhadap HCl dan juga air. Adapun prinsip yang digunakan dalam percobaan ini adalah suatu sistem zat dengan energi termal lebih besar atau melepaskan kalor yang akan diserap oleh suatu sistem zat dengan energi termal lebih kecil. Dimana pada percobaan ini yang memiliki energi termal lebih besar adalah HCl dan yang lebih kecil adalah H2O. Selain itu digunakan juga kalorimeter untuk menentukan nilai kalor berdasarkan perubahan suhu dengan teknik yang digunakan adalah kalorimeter.
        Pada percobaan ini dilakukan dengan melakukan pengenceran HCl yang berfungsi untuk mengurangi tingkat kepekatan dari HCl dan untuk mengatur perpindahan kalor antara HCl dan H2O. Kemudian ditentukan suhu awal air dingin yang didapatkan yaitu sebesar 32°C. Setelah itu dilakukan pencampuran dengan HCl yang berfungsi agar terjadinya suatu perubahan suhu campuran yang dapat menunjukkan adanya perubahan entalpi pengenceran, dimana
ketika pelarutan berlebih ditambahkan untuk menurunkan konsentrasi zat
terlarut maka akan disertai pelepasan atau penyerapan kalor antara zat pelarut
dan zat terlarut. 

Gambar 1. Grafik Hubungan Waktu (detik) Terhadap Suhu Campuran
(T.HCl.H₂O)( °C)
        Berdasarkan grafik hubungan waktu (detik) terhadap suhu campuran (THCl.H2O) diatas dapat dilihat bahwa grafik yang dihasilkan adalah konstan dimana saat pengukuran suhu campuran dari detik ke-15 hingga detik ke-150 atau selama selang 15 detik tidak terjadi kenaikan ataupun penurunan suhu, sehingga grafik yang didapatkan konstan. Berdasarkan perhitungan didapatkan
nilai entalpi pengenceran HCl yang diproleh adalah 0 J/mol. Mungkin telah terjadi sedikit kesalahan sehingga entalpi yang dihasilkan 0. Seharusnya dalam percobaan ini terjadi reaksi eksotermik ketika proses ditambahkannya HCl ke dalam larutan, dimana terjadi perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan.

4.2 Perubahan Entalpi Netralisasi (∆𝐇n)
         Pada percobaan ini bertujuan untuk menetukan perubahan entalpi netralisasi suhu campuran dari asam kuat dan basa kuat atau campuran dari HCl dan NaOH. Adapun kalor netralisasi merupakan energi panas yang timbul saat reaksi penetralan asam dan basa terjadi. Pada netralisasi asam kuat dan basa kuat bersifat tetap, sehingga ketika HCl (asam kuat) direaksikan dengan
NaOH (basa kuat) akan bereaksi seluruhnya karena larutan terurai sempurna membentuk ion-ionnya. Dimana jika larutan asam dan basa direaksikan maka akan dihasilkan garam dan air. Ketika HCl dicampurkan dengan NaOH maka
ion H+ dari HCl akan bereaksi dengan ion OH- dari NaOH membentuk H2O,
yang mana reaksi ini dimanakan reaksi netralisasi. Dan ketika ion Cl- dari HCl
bereaksi dengan ion Na+ dan NaOH maka akan membentuk garam NaCl. Sehingga didapatkan grafik hubungan waktu terhadap suhu campuran, sebagai berikut :

Gambar 2. Grafik Hubungan Waktu (detik) Terhadap Suhu Campuran (T
NaOH.HCl) (°C)
        Berdasarkan grafik hubungan waktu terhadap suhu campuran NaOH dan HCl di atas, dapat dilihat bahwa suhu campuran antara NaOH dan HCl yang diperoleh adalah konstan pada suhu pengukuran di detik ke-15 hingga detik ke-150. Menurut literature suhu campuran mengalami kenaikan dari suhu awal yaitu suhu pencampuran sebelum dan sesudah berbeda karena proses endotermik adalah sebuha wadah adiabatik. Dimana hal ini terjadi karena saat berlangsungnya reaksi terjadi pelepasan kalor oleh sistem yang diserap oleh lingkungan dan material lain, sehingga suhu linhkungan naik yang ditandai dengan naiknya suhu larutan, sedangkan pada sistem suhunya turun dan mencapai keadaan stabil membentuk produk hasil reaksi. 

4.3 Perubahan Entalpi Pelarutan dan Energi Kisi
          Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengukur perubahan entlapi dan energi kisi dengan ,menggunakan sampel berupa MgCl2 dengan massa yang berbeda-beda, dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah penambahan zat terlarut terhadap besar entalpi pelarutan senyawa. Energi kisi sendiri merupakan energi yang diperlukan pada penguraian 1 mol senyawa ionik menjadi ion-ionnya dalam fase gas pada suhu 0 K. adapun entalpi pelarutan merupakan jumlah kalor yang diperlukan atau dibebaskan untuk melarutkan 1 mol zat pada keadaan standar. Menurut literature, semakin banyak zat terlarut yang ditambahkan ke dalam pelarut dalam standar mata akan semakin kecil pula entalpi pelarutan yang dihasilkan, karena milai mol yang dihasilkan akan semakin kecil seiring penambahan zat terlarut, jadi membutuhkan kalor yang lebih sedikit untuk melarutkan 1 mol zat terlarut. 
          Berikut ini merupakan grafik perlakuan pertama hubungan sehu campuran terhadap waktu, yaitu sebagai berikut:

Gambar 3. Grafik Hubungan Waktu terhadap Suhu campuran (MgCl2.H2O) (◦C)
Berdasarkan grafik di atas mengenai perlakuan pertama yaitu hubungan antara waktu terhadap suhu campuran dari MgCl2 dan air dengan massa MgCl2 sebesar 1 gram adalah konstan. Dimana suhu yang didapatkan adalah konstan pada 32°C dari pengukuran pertama pada detik ke-15 sampai pengukuran terakhir pada detik ke-150. MgCl2 merupakan kristal ion yang dapat terionisasi menjadi ion-ion dalam bentuk gas sehingga dapat dihitung besar energi kisi dan MgCl2. Berdasarkan perhitungan didapatkan ∆HCl sebesar 0 j/mol. Hal ini dikarenakn suhu campuran dan suhu awalnya sama, yaitu 33°C. sehingga ∆HCl dan ∆HCl yang diperoleh pun menjadi 0.
             Berikut ini dapat digambarkan grafik hubungan waktu terhadap suhu campuran dengan massa MgCl2 sebersar 1,5 gram yang diperoleh dari perlakuan kedua yaitu sebagai berikut:

Gambar 4. Grafik hubungan waktu terhadap suhu campuran (MgCl2.H2O) (°C)
           Berdasarkan grafik hubungan antara waktu terhadap suhu campuran MgCl2.H2O dengan massa MgCl2 sebesar 1,5 gram dan grafik yang diperoleh adalah konstan dengan suhu campuran konstan pada suhu 32°C dari detik ke-15 hingga 150. Berdasarkan perhitungan didapatkan ∆HCl yang diperoleh adalah sebesar 0 J/mol.
Gambar 5. Grafik hubungan waktu terhadap suhu campuran (MgCl2.H2O) (°C)
           Berdasarkan grafik diatas, pada perlakuan ini dilakukan dengan prosedur yang sama dengan massa MgCl2 sebesar 2 gram dan grafik yang didapatkan adalah konstan dari awal (detik ke-15) hingga akhir (detik ke-150). Hal ini menandakan bahwa calorimeter yang digunakan dapat menjaga dan mempertahankan suhu. Didapatkan ∆HCl = 0 J/mol.

Gambar 6. Grafik hubungan waktu terhadap suhu campuran (MgCl2.H2O) (°C)
           Pada perlakuan ini dilakukan dengan prosedur yang sama dengan perlakuan sebelumnya, namun massa MgCl2ditambah dengan 0,5 gram menjadi 2,5 gram. Adapun grafik yang didapatkan adalah konstan dengan suhu campuran konstan pada 32°C. Hal ini menandakan bahwa calorimeter yang digunakan dapat berfungsi dengan baik dengan ∆Hcl = 0 J/mol.

Gambar 7. Grafik hubungan waktu terhadap suhu campuran (MgCl2.H2O) (°C)
Berdasarkan grafik hubungan waktu terhadap suhu campuran MgCl2 dan H2O dengan massa MgCl2 sebesar 3 gram, maka grafik yang didapatkan adalah konstan dari awal hingga akhir. Hal ini menandakan tidak terjadi transfer kalor antara sistem dan lingkungan, sehingga tidak terjadi perubahan suhu pada campuran tersebut. Berdasarkan perhitungan didapatkan ∆HCl sebesar 0 J/mol.


V. Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
           Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan yaitu mengenai panas
nertalisasi dan energi kisi yang dapat disimpulkan bahwa:
  1. Untuk menentukan panas netralisasi asam dan basa
  2. Untuk menentukan panas kelarutan kristal ion
  3. Untuk menghitung energi kisi padatan kristal ion dapat dihitung
  4. menggunakan siklus Born-Haber

5.2 Saran 
         Adapun saran dalam percobaan yang mengenai panas netralisasi dan energi kisi ini, agar tidak terjadi Kembali kesalahan yang sering terjadi, untuk meminimalisir kesalahan tersebut, sebaiknya praktikan harus mempelajari dan memahami serta prosedur kerja terkait dengan percobaan.

Kamis, 23 Februari 2023

TUGAS 1, Materi " Peluang "

 1. Berapa peluang kejadian terambilnya selembar kartu AS atau kartu wajik yang dipilih secara acak dari dek standar dengan 52 kartu ?...

Jawaban :

Peluang kompleks


Rumus : 

  P (AUB) = P(A) + P(B) - P(A∩B)

Penyelesaian :

*n(S) = 52

AS→n(K) = 4

maka, P(A) = n(K) / n(S) = 4 / 52


*n(S) = 52

wajik→n(K) = 13

maka, P(B) = n(K) / n(S) = 13 / 52


Kejadian AS : {AS❤️, AS♦️, AS♣️, AS♠️}

Kejadian wajik : {AS,2,3,4,5,6,7,8,9,10,J,Q,K}

dari kejadian diatas yang sama adalah AS wajik, maka irisan nya adalah 1.

*Maka, P(A∩B) = 1 / 52→52 dari banyak nya kartu.

Sehingga :

 P(AUB) = P(A) + P(B) - P(A∩B)

               = 4/52 + 13/52 - 1/52

               = 16/52

               = 4/13

Rabu, 11 Januari 2023

MATERI PELUANG


 

MATERI PELUANG

Kelas : XII MIA B

1. PENGERTIAN PELUANG 


peluang dapat diartikan sebagai kemungkinan besar atau probabilitas berlangsungnya suatu kejadian. Penerapan konsep peluang tidak hanya di terapkan pada hal-hal yang simpel seperti pada permainan dadu saja, namun konsep peluang juga diterapkan pada hal-hal yang bersifat kompleks seperti ramalan cuaca, asuransi, investasi, dan lainnya.Peluang mempunyai arti yang sempit yaitu sebagai peluang yang muncul dalam suatu percobaan. Menurut Marthen Kangian dalam bukunya yang berjudul Cerdas Belajar Mathematica , peluang adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengungkapkan kemungkinan suatu kejadian.Peluang berhubungan erat dengan penentuan jumlah titik sampel. Jumlah titik sampel dapat ditentukan dengan menggunakan aturan pencacahan, yaitu perkalian, permutasi, dan kombinasi.


2. RUMUS PELUANG MATEMATIKA


Rumus peluang adalah P(A) = n(A)/n(S), yaitu pembagian jumlah ruang sampel dengan jumlah ruang semesta kejadian peristiwa. 

P(A) = n(A)/ n(S)

Keterangan:

p(A) = peluang 

N(A) = banyak anggota himpunan kejadian A

n(S) = banyak anggota dalam himpunan ruang sampel S


3. FUNGSI PELUANG 



  • Membantu dalam membuat keputusan yang tepat
  • Sebagai perbandingan luas suatu daerah pada interval tertentu dengan luas keseluruhan.
  • Untuk memperkirakan hal yang akan terjadi
  • Di gunakan dalam psikologi statistik
  • Dimanfaatkan dalam ilmu aktuaria, yakni ilmu gabungan antara ilmu peluang, matematika, statistika, keuangan, dan pemrograman komputer. 


4. CONTOH SOAL


Dua buah dadu di lempar bersamaan. 

Peluang muncul mata dadu berjumlah 5 adalah......

A. 2/3                     C. 1/6

B. 1/3                     D. 1/9

Penyelesaian :

Jumlah 5 -------> 1 + 4               4 + 1

                             2 + 3               3 + 2


n(S) = 6 x 6 = 36

Rumus : p(A) = n(A) / n(S) 

p(A) = n(A) / n(S)

        = 4 / 36 

        = 1 /9

Jadi jawaban yang benar adalah D. 1/9 











VOLUME MOLAR PARSIAL

  PERCOBAAN IV VOLUME MOLAR PARSIAL  I. Tujuan  Menentukan volume molar nyata (e)M Menentukan volume molar parsial larutan dan zat tarlarut ...